Advertisement

  • Chain of Survival www.worldwide-doctor.com

    Chain of Survival is a procedure that uses to help a person with cardiac arrest. Contain of 4 chains that connected each other, and if we do the right, it will gain the rate of survival for injured person.

    Early Access

    Every person should know how to assess an emergency condition. Activate Emergency System by call the emergency Medical Services (EMS) to get rapid response and help. In a condition where there is no communication system around you, just shout out for help.

    Early CPR

    The first one who found the casualty should do rapid assessment and CPR as soon as possible, it's mean every one must know how to do that. An Early CPR could gain the survival rate.

    Early Defibrillation

    CPR will be more effective if combine with External Defibrillation. Rapid application of an Automatic External Defibrillation will gain the survival rate. AED is working to restore electric activities on hearth. Electric shock given to restricts the uncoordinated impulses in ventricle fibrillation. An AED can operate by anyone.

    Early ACLS

    Advance Cardiac Life Support (ACLS) is an advance life threatening that provide by medical personnel. A rapid medical personnel access to the casualty is an important thing life threatening efforts, that's why a rapid information/call to emergency services put in the first procedure and while waiting for EMS arriving, the witness or other one can make a first threatening (CPR and AED).

    more
  • Cadena de Supervivencia Cadena de Supervivencia es un procedimiento que utiliza para ayudar a una persona con paro cardíaco. Contener de 4 cadenas que conectados entre sí, y si lo hacemos la derecha, va a ganar la tasa de supervivencia de la persona lesionada.

    Principios de acceso

    Toda persona debe saber cómo evaluar una condición de emergencia. Activar el Sistema de Emergencia por la llamada de emergencia de Servicios Médicos (SME) para obtener una respuesta rápida y ayuda. En una condición en la que no hay ningún sistema de comunicación a su alrededor, sólo gritar para pedir ayuda.

    Principios de la RCP

    El primero que encontró la víctima debe hacer una evaluación rápida y RCP lo antes posible, es decir cada uno debe saber cómo hacerlo. Una de las primeras CPR puede obtener la tasa de supervivencia.

    Desfibrilación Temprana

    CPR serán más eficaces si se combinan con Desfibrilación Externa. Rápida aplicación de una desfibrilación externa automática obtendrá la tasa de supervivencia. AED está trabajando para restablecer la electricidad en las actividades del hogar. Descarga eléctrica limita la posibilidad de que la falta de impulsos en la fibrilación ventricular. Un AED pueden operar por cualquier persona.

    Principios de ACLS

    Anticipo cardíacos Life Support (ACLS) es un anticipo de vida o muerte que ofrecen por el personal médico. Un rápido acceso a personal médico de la víctima es un importante esfuerzo en peligro la vida, por eso una rápida información y llamar a los servicios de emergencia puesto en el primer procedimiento y en espera de que lleguen SEMA, el testigo u otra se puede hacer una primera amenaza (CPR y DEA).

    more
  • Traveling on high (Part 2) : High Altitude Illnesses (Taken from some references in internet, this article created by me when I was active on hiking few years ago, this in Indonesia Verson, hope can make it in english soon.)

    PENYAKIT PADA PENDAKIAN

    Telah dijelaskan sebelumnya mengenai kondisi-kondisi tubuh yang terjadi akibat adanya perubahan di lingkungan ketingian. Kegagalan tubuh dalam beradaptasi dalam peroses aklimatisasi dapat berakibat timbulnya berbagai gangguan atau penyakit akibat ketinggian.


    1. Acute Mountain Sickness (AMS)
    AMS merupakan representasi atas intoleransi tubuh terhadap hypoxia.AMS ini tergantung kepada ketinggian, kecepatan mendaki, seberapa lama eksposure, latihan dan kebugaran individual. Gejala AMS antara lain :
    1. Sakit kepala, merupakan gejala yang paling sering muncul. Biasanya terasa sangat nyeri dan berdenyut di daerah bitemporal. Pada keadaan yang lebih buruk dapat timbul vertigo dan apathy.
    2. Gangguan tidur (susah tidur), yang disebabkan oleh periodic breathing yang makin sering terjadi.
    3. Fatigue (rasa lelah), akan semakin memburuk akibat gangguan tidur.
    4. Napas yang tidak adekuat dan rasa pusing, akibat makin berkurangnya oksigen, dapat berlanjut pada dyspnea
    5. Nausea dan anorexia (mual dan kehilangan nafsu makan), timbul sebagai akibat dari semakin berkurangnya nafsu makan atau bisa juga akibat dari kurangnya intake cairan. Muntah merupakan indikasi makin memburuknya keadaan penderita dan dapat berlanjut pada timbulnya dehidrasi.
    Gejala-gejala ini biasanya mulai muncul ketika pendaki telah mencapai ketinggian 1000 mdpl.

    AMS dapat diderita oleh siapa saja. Pria atau wanita, anak hingga orang tua memliki kemungkinan yang sama. Kondisi fisik yang bagus tidak terlalu menjamin untuk terhindarkan dari AMS. Kondisi fisik yang fit dan menghindari rokok dianggap dapat membantu mencegah AMS tetapi hal ini tidak selamanya benar. Orang dengan penyakit paru, jantung, dan hipertensi sebaiknya menghubungi dokter sebelum melakukan pendakian.

    AMS dapat dicegah dengan mengatur pendakian yang memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan aklimatisasi. Walaupun kemampuan setiap orang untuk beraklimatisasi berbeda, tapi UIAA Mountain Medicine Centre memberikan standar untuk aklimatisasi, pada ketinggian diatas 3000 meter, pendaki harus tidur satu malam pada setiap pendakian setinggi 300 meter, dan setiap mencapai 1000 meter harus menginap paling kurang dua hari.

    AMS dapat pula dicegah dengan mempercepat proses aklimatisasi, dengan jalan mengkonsumsi acetazolamid (Diamox) dengan dosis 125 mg setiap 12 jam, selama kita tidak melakukan pendakian (istirahat). Perlu diingat untuk beristirahat jika merasa lelah dan tidak melanjutkan pendakian selama terdapat gejala-gejala AMS.
    AMS ditangani dengan jalan membiarkan penderita beristirahat dan pengobatan secara simptomatik, berikan oksigen jika tersedia, serta terapi cairan jika perlu. Tapi pengobatan yang paling baik dan cepat adalah segera turun sampai pada ketinggian dimana gejala-gejala menghilang, biasanya hingga 500-1000 meter dari ketinggian semula.

    Pengobatan lainnya adalah memakai portable hyperbaric chamber (Gamow atau Pac Bag). Jangan pernah meninggalkan penderita AMS dalam keadaan sendiri.
    Hindari mengkonsumsi zat sedatif (alkohol, antihistamin, obat tidur) selama pendakian, karena akan mempercepat timbulnya gejala-gejala AMS, bahkan bisa memperburuk keadaan penderita AMS.

    AMS yang tidak disadari atau ditangani akan menyebabkan komplikasi yang lebih buruk. Komplikasi yang dapat muncul adalah High Altitude Cerebral Edema (HACE) dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE).

    2. High Altitude Cerebral Edema (HACE)
    HACE pada dasarnya adalah AMS yang memburuk. Penyebabnya adalah pembengkakan otak akibat akumulasi cairan.

    Gejalanya dari HACE adalah perubahan mental atau gangguan berpikir, tingkah laku, dan perasaan mengantuk (letargi). Dapat pula ditandai dengan menurunnya sistem koordinasi anggota gerak penderita, dikenal dengan ataxia, yang mirip dengan keadaan seseorang yang berjalan dibawah pengaruh alkohol. Untuk keadaan ini dapat diuji dengan tandem gait test (jalan diatas garis lurus). Jika seseorang tidak dapat melakukan tes ini maka dapat dicurigai menderita HACE.

    Penanganan HACE tidak ada selain segera turun hingga tempat dimana gejala bisa berkurang atau hilang sama sekali (seperti pada AMS), jangan pernah menunggu hingga pagi tiba. Penundaan dapat berakibat fatal. Pemberian obat simptomatis hanya akan mengurangi gejala yang timbul. Dexamethasone (steroid) dapat digunakan untuk mengurangi gejala yang timbul dengan dosis 8 mg i.m. atau peroral pada pemberian pertama dilanjutkan 4 mg setiap 6 jam berikutnya. Pada saat evakuasi bantuan oksigen dan kantong bertekanan sangatlah membantu penderita.

    Setelah gejala mulai hilang penderita dengan HACE tidak diperkenankan untuk kembali melakukan pendakian sebelum mendapatkan perawatan dari dokter. HACE dapat cepat sembuh dengan sempurna jika turun secepat mungkin dan pada jarak ketinggian yang cukup.

    3. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
    HAPE adalah penyebab kematian paling umum di ketinggian. Pada dasarnya, HAPE disebabkan akumulasi cairan atau darah di dalam paru-paru sehingga penderita mengalami kesulitan bernafas.

    Tanda paling awal HAPE adalah menurunnya exercixe tolerance dan meningkatnya recovery time. Biasanya timbul batuk kering kadang disertai pink sputum (dahak bercampur darah), kuku dan bibir bewarna biru sampai abu-abu (cyanosis). Semakin parah, saat istirahat semakin sulit untuk bernapas (dada terasa sesak) dan kadang terdengar bunyi gelembung di paru-paru (gurgling). Nantinya berkembang menjadi perubahan mental, ataxia dan koma (HACE).

    Situasi ini bisa ditolong dengan bantuan oksigen. Obat seperti Nifedipine (Adalat XL) juga terbukti efektif, 30 mg tiap 12 jam secara oral. Pemberian dexamethasone juga dapat membantu (sama dengan HACE). Cara yang terbaik adalah turun ke ketinggian lebih rendah. Situs Outsidemag.com beberapa waktu lalu pernah mengutip hasil penelitian di New England Journal of Medicine, dikatakan bahwa obat salmeterol yang biasa dipakai untuk asma ternyata juga mengurangi risiko HAPE. Bedanya dengan Nifedipine yang diberikan peroral, salmeterol ini bisa dihisap langsung sehingga cepat masuk ke paru-paru. Salmeterol ini adalah nama kimia untuk merek Serevent.

    Jurnal medis Lancet menyatakan HAPE ternyata lebih sering menimpa pendaki dari yang diperkirakan semula. Dulu HAPE dipercaya hanya menimpa 2-4% pendaki yg berada di ketinggian lebih dari 2400 mdpl. Tapi riset terbaru menemukan bahwa 60 persen pendaki di gunung Monte Rosa (14.957 kaki) di daerah Alps ternyata menunjukkan tanda-tanda subklinik HAPE lalu 15 % lagi menunjukkan tanda klinik HAPE.

    4. High Altitude Pharyngitis and Bronchitis
    Dikenal dengan istilah "Khumbu Cough". Mereka yg menghabiskan waktu lebih dari 2 minggu di basecamp Everest biasanya menderita tenggorokan kering dan batuk kronis.

    Saat bernafas cepat, sering melalui mulut, udara tidak dilembabkan seperti pada hidung. Udara yang dingin dan kering membuat tenggorokan dan saluran pernafasan kering sehingga timbul batuk kering. Kadang batuknya sangat parah sampai mencederai tulang rusuk. Pada dasarnya, bisa disembuhkan kalau turun. Pendaki ada yang mencoba trik seperti makan permen batuk sampai ke cara tidur dengan pake masker.
    Penyakit ini akan hilang dengan sendirinya jika pendaki kembali berada di ketinggian normal.

    more
  • Traveling on high (Part 1) : Acclimatisation (Taken from some references in internet, this article created by me when I was active on hiking few years ago, this in Indonesia Verson, hope can make it in english soon.)

    Pendakian adalah sebuah kegiatan yang memberikan kesenangan terutama bagi mereka yang menyukai petualangan dan tantangan. Dibalik kesenangan dan tantangan tersebut terdapat resiko yang kadang harus ditanggung oleh pendaki, akibat dari perubahan yang terjadi di dalam tubuh sebagai kompensasi terhadap keadaan lingkungan.

    Keadaan lingkungan pada pendakian yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan kondisi tubuh, anatara lain :
    • - tekanan udara yang lebih rendah
    • - kadar oksigen menurun (SaO2 kurang dari normal)
    • - suhu yang rendah
    • - kelembapan udara meningkat
    • - tingkat radiasi sinar matahari yang tinggi

    Perubahan-perubahan keadaan lingkungan tersebut akan terus berubah selaras dengan perubahan ketinggian. Ketinggian, oleh The International Society of Mountain Medicine, dibagi atas :
    • - High altitude : 1500 - 3500 m
    • - Very high altitude : 3500 – 5500 m
    • - Extreme altitude : > 5500 m


    AKLIMATISASI
    Sebagai usaha untuk beradapatasi pada keadaan lingkungan tersebut - terutama akibat kurangnya oksigen - tubuh mengalami aklimatisasi. Proses ini berjalan lambat dan kadang butuh waktu lebih dari satu hari. Perubahan fisiologis terjadi pada sistem pernapasan, peredaran darah, dan sitem tubuh lainnya dengan maksud meningkatkan distribusi oksigen. Aklimatisasi tergantung pada kecepatan pendakian, tingkat stress dan fisiologis individual. Kemampuan individu untuk beraklimatisasi juga berbeda.
    Perubahan fisiologis (normal) yang terjadi akibat ketinggian :
    1. Sistem respirasi
    Saat naik, kecepatan bernafas kita akan bertambah pula. Ini biasa dimulai sejak ketinggian 1500M hal ini dikenal dengan Hypoxic Ventilatory Response (HVR). HVR bervariasi pada tiap orang dan dipengaruhi oleh stimulan (misalnya kafein dan coca), serta depresan (misalnya alkohol dan antihistamin). Kebugaran fisik tidak terlalu berpengaruh terhadap HVR. HVR yang baik akan meningkatkan aklimatisasi, HVR yang kurang baik akan memudahkan terkena penyakit ketinggian. Karena kecepatan nafas bertambah, semakin banyak oksigen (O2) yang dihirup. Tapi kita juga akan semakin banyak mengeluarkan karbondioksida (CO2) sehingga terjadi perubahan kimiawi dalam tubuh. Dalam waktu 24 sampai 48 jam, ginjal berusaha menyelaraskan dengan perubahan kimiawi tersebut dengan mengeluarkan bikarbonat (artinya kita akan semakin banyak mengeluarkan urin selama aklimatisasi).

    2. Sistem sirkulasi
    Ketinggian akan membuat tubuh dalam keadaan stress. Sebagai respon, adrenalin dilepaskan ke dalam darah. Akibatnya, muncul peningkatan ringan pada tekanan darah dan detak jantung. Semakin lama di ketinggian, detak jantung kembali ke tingkat normal. Volume plasma darah juga menurun akibat peningkatan urin. Penurunan ini bisa mencapai angka 15 % dalam tiga hari pertama aklimatisasi. Jadi sangat penting untuk minum banyak air sehingga tidak terjadi dehidrasi. Pulmonary vessel juga akan menyempit selama berada di ketinggian. Dampaknya terjadi tekanan pada arteri pulmonary dan menjadi satu faktor timbulnya pulmonary edema (cairan bocor ke paru-paru).

    3. Pola tidur

    Salah satu kontrol pernafasan adalah kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah. Jika kadarnya meningkat, otak menyuruh kita bernafas. Kalau tingkat oksigen menurun, otak juga menyuruh kita bernafas. Saat kita bernafas dengan cepat di ketinggian, semakin banyak karbon dioksida yg dihembuskan -otak merasakan kadar yg rendah- secara spontan kita akan berhenti bernafas. selanjutnya kadar oksigen akan menurun dari tidak adanya nafas itu, otak menyuruh kita kembali bernafas sehingga kita bernafas dan menghembuskan lagi karbon dioksida. Jadilah seperti satu siklus yg tak berujung. Fase tak bernafas tadi bisa mencapai 30 detik atau lebih. Istilahnya periodic breathing dan sering terjadi selama aklimatisasi. Ini tentu bisa mengganggu pola tidur yg normal. Mungkin kita pernah tiba-tiba bangun karena merasa tercekik dan perlu bernafas sekali lagi. Saat aklimatisasi berlanjut, fenomena ini akan berkurang tapi tidak akan menghilang sepenuhnya.

    4. Penurunan kondisi tubuh (deteriorasi)

    Ketinggian 5800 M merupakan batas habitasi jangka panjang yang normal. Masalah pada ketinggian ini banyak, antara lain; turunnya berat badan, rasa cepat ngantuk/lemas, dan susah tidur. Semakin tinggi, penurunan-penurunan tadi semakin sering terjadi. Di atas 8000M (atau the Death Zone), penurunan terjadi secara cepat, bahkan kematian bisa terjadi secara tiba-tiba. Tak heran kalau pendaki Everest kebanyakan memakai suplai oksigen. Masalah turunnya berat badan adalah persoalan yang serius. Penyebabnya ada dua; turunnya selera makan dan susahnya menyerap nutrisi makanan. Selera makan ini turun sesuai ketinggian, makin tinggi makin turun selera makan kita. Tubuh kita saat itu juga cuma nyerap setengah dari lemak makanan serta tiga perempat karbohidrat dari kebiasaan normalnya.


    more

Online Advertising

Advertisement

for Sale 4 Ads space (120 x 120) @ US$ 4,-/month or 1 Ads Space (250 x 250) @ US$ 12,-/month contact person : ihsan.kitta@yahoo.com

Recent Posts

Subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Recent Comments

Shout For Healthy Life


ShoutMix chat widget
Add to Technorati Favorites

Affiliates

Blog Advertising - Get Paid to Blog