• Traveling on high (Part 2) : High Altitude Illnesses

    (Taken from some references in internet, this article created by me when I was active on hiking few years ago, this in Indonesia Verson, hope can make it in english soon.)

    PENYAKIT PADA PENDAKIAN

    Telah dijelaskan sebelumnya mengenai kondisi-kondisi tubuh yang terjadi akibat adanya perubahan di lingkungan ketingian. Kegagalan tubuh dalam beradaptasi dalam peroses aklimatisasi dapat berakibat timbulnya berbagai gangguan atau penyakit akibat ketinggian.


    1. Acute Mountain Sickness (AMS)
    AMS merupakan representasi atas intoleransi tubuh terhadap hypoxia.AMS ini tergantung kepada ketinggian, kecepatan mendaki, seberapa lama eksposure, latihan dan kebugaran individual. Gejala AMS antara lain :
    1. Sakit kepala, merupakan gejala yang paling sering muncul. Biasanya terasa sangat nyeri dan berdenyut di daerah bitemporal. Pada keadaan yang lebih buruk dapat timbul vertigo dan apathy.
    2. Gangguan tidur (susah tidur), yang disebabkan oleh periodic breathing yang makin sering terjadi.
    3. Fatigue (rasa lelah), akan semakin memburuk akibat gangguan tidur.
    4. Napas yang tidak adekuat dan rasa pusing, akibat makin berkurangnya oksigen, dapat berlanjut pada dyspnea
    5. Nausea dan anorexia (mual dan kehilangan nafsu makan), timbul sebagai akibat dari semakin berkurangnya nafsu makan atau bisa juga akibat dari kurangnya intake cairan. Muntah merupakan indikasi makin memburuknya keadaan penderita dan dapat berlanjut pada timbulnya dehidrasi.
    Gejala-gejala ini biasanya mulai muncul ketika pendaki telah mencapai ketinggian 1000 mdpl.

    AMS dapat diderita oleh siapa saja. Pria atau wanita, anak hingga orang tua memliki kemungkinan yang sama. Kondisi fisik yang bagus tidak terlalu menjamin untuk terhindarkan dari AMS. Kondisi fisik yang fit dan menghindari rokok dianggap dapat membantu mencegah AMS tetapi hal ini tidak selamanya benar. Orang dengan penyakit paru, jantung, dan hipertensi sebaiknya menghubungi dokter sebelum melakukan pendakian.

    AMS dapat dicegah dengan mengatur pendakian yang memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan aklimatisasi. Walaupun kemampuan setiap orang untuk beraklimatisasi berbeda, tapi UIAA Mountain Medicine Centre memberikan standar untuk aklimatisasi, pada ketinggian diatas 3000 meter, pendaki harus tidur satu malam pada setiap pendakian setinggi 300 meter, dan setiap mencapai 1000 meter harus menginap paling kurang dua hari.

    AMS dapat pula dicegah dengan mempercepat proses aklimatisasi, dengan jalan mengkonsumsi acetazolamid (Diamox) dengan dosis 125 mg setiap 12 jam, selama kita tidak melakukan pendakian (istirahat). Perlu diingat untuk beristirahat jika merasa lelah dan tidak melanjutkan pendakian selama terdapat gejala-gejala AMS.
    AMS ditangani dengan jalan membiarkan penderita beristirahat dan pengobatan secara simptomatik, berikan oksigen jika tersedia, serta terapi cairan jika perlu. Tapi pengobatan yang paling baik dan cepat adalah segera turun sampai pada ketinggian dimana gejala-gejala menghilang, biasanya hingga 500-1000 meter dari ketinggian semula.

    Pengobatan lainnya adalah memakai portable hyperbaric chamber (Gamow atau Pac Bag). Jangan pernah meninggalkan penderita AMS dalam keadaan sendiri.
    Hindari mengkonsumsi zat sedatif (alkohol, antihistamin, obat tidur) selama pendakian, karena akan mempercepat timbulnya gejala-gejala AMS, bahkan bisa memperburuk keadaan penderita AMS.

    AMS yang tidak disadari atau ditangani akan menyebabkan komplikasi yang lebih buruk. Komplikasi yang dapat muncul adalah High Altitude Cerebral Edema (HACE) dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE).

    2. High Altitude Cerebral Edema (HACE)
    HACE pada dasarnya adalah AMS yang memburuk. Penyebabnya adalah pembengkakan otak akibat akumulasi cairan.

    Gejalanya dari HACE adalah perubahan mental atau gangguan berpikir, tingkah laku, dan perasaan mengantuk (letargi). Dapat pula ditandai dengan menurunnya sistem koordinasi anggota gerak penderita, dikenal dengan ataxia, yang mirip dengan keadaan seseorang yang berjalan dibawah pengaruh alkohol. Untuk keadaan ini dapat diuji dengan tandem gait test (jalan diatas garis lurus). Jika seseorang tidak dapat melakukan tes ini maka dapat dicurigai menderita HACE.

    Penanganan HACE tidak ada selain segera turun hingga tempat dimana gejala bisa berkurang atau hilang sama sekali (seperti pada AMS), jangan pernah menunggu hingga pagi tiba. Penundaan dapat berakibat fatal. Pemberian obat simptomatis hanya akan mengurangi gejala yang timbul. Dexamethasone (steroid) dapat digunakan untuk mengurangi gejala yang timbul dengan dosis 8 mg i.m. atau peroral pada pemberian pertama dilanjutkan 4 mg setiap 6 jam berikutnya. Pada saat evakuasi bantuan oksigen dan kantong bertekanan sangatlah membantu penderita.

    Setelah gejala mulai hilang penderita dengan HACE tidak diperkenankan untuk kembali melakukan pendakian sebelum mendapatkan perawatan dari dokter. HACE dapat cepat sembuh dengan sempurna jika turun secepat mungkin dan pada jarak ketinggian yang cukup.

    3. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
    HAPE adalah penyebab kematian paling umum di ketinggian. Pada dasarnya, HAPE disebabkan akumulasi cairan atau darah di dalam paru-paru sehingga penderita mengalami kesulitan bernafas.

    Tanda paling awal HAPE adalah menurunnya exercixe tolerance dan meningkatnya recovery time. Biasanya timbul batuk kering kadang disertai pink sputum (dahak bercampur darah), kuku dan bibir bewarna biru sampai abu-abu (cyanosis). Semakin parah, saat istirahat semakin sulit untuk bernapas (dada terasa sesak) dan kadang terdengar bunyi gelembung di paru-paru (gurgling). Nantinya berkembang menjadi perubahan mental, ataxia dan koma (HACE).

    Situasi ini bisa ditolong dengan bantuan oksigen. Obat seperti Nifedipine (Adalat XL) juga terbukti efektif, 30 mg tiap 12 jam secara oral. Pemberian dexamethasone juga dapat membantu (sama dengan HACE). Cara yang terbaik adalah turun ke ketinggian lebih rendah. Situs Outsidemag.com beberapa waktu lalu pernah mengutip hasil penelitian di New England Journal of Medicine, dikatakan bahwa obat salmeterol yang biasa dipakai untuk asma ternyata juga mengurangi risiko HAPE. Bedanya dengan Nifedipine yang diberikan peroral, salmeterol ini bisa dihisap langsung sehingga cepat masuk ke paru-paru. Salmeterol ini adalah nama kimia untuk merek Serevent.

    Jurnal medis Lancet menyatakan HAPE ternyata lebih sering menimpa pendaki dari yang diperkirakan semula. Dulu HAPE dipercaya hanya menimpa 2-4% pendaki yg berada di ketinggian lebih dari 2400 mdpl. Tapi riset terbaru menemukan bahwa 60 persen pendaki di gunung Monte Rosa (14.957 kaki) di daerah Alps ternyata menunjukkan tanda-tanda subklinik HAPE lalu 15 % lagi menunjukkan tanda klinik HAPE.

    4. High Altitude Pharyngitis and Bronchitis
    Dikenal dengan istilah "Khumbu Cough". Mereka yg menghabiskan waktu lebih dari 2 minggu di basecamp Everest biasanya menderita tenggorokan kering dan batuk kronis.

    Saat bernafas cepat, sering melalui mulut, udara tidak dilembabkan seperti pada hidung. Udara yang dingin dan kering membuat tenggorokan dan saluran pernafasan kering sehingga timbul batuk kering. Kadang batuknya sangat parah sampai mencederai tulang rusuk. Pada dasarnya, bisa disembuhkan kalau turun. Pendaki ada yang mencoba trik seperti makan permen batuk sampai ke cara tidur dengan pake masker.
    Penyakit ini akan hilang dengan sendirinya jika pendaki kembali berada di ketinggian normal.

0 comments:

Leave a Reply

Sponsors

Recent Posts

Subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Shout For Healthy Life

Stats





eXTReMe Tracker