Pendakian adalah sebuah kegiatan yang memberikan kesenangan terutama bagi mereka yang menyukai petualangan dan tantangan. Dibalik kesenangan dan tantangan tersebut terdapat resiko yang kadang harus ditanggung oleh pendaki, akibat dari perubahan yang terjadi di dalam tubuh sebagai kompensasi terhadap keadaan lingkungan.
- - tekanan udara yang lebih rendah
- - kadar oksigen menurun (SaO2 kurang dari normal)
- - suhu yang rendah
- - kelembapan udara meningkat
- - tingkat radiasi sinar matahari yang tinggi
Perubahan-perubahan keadaan lingkungan tersebut akan terus berubah selaras dengan perubahan ketinggian. Ketinggian, oleh The International Society of Mountain Medicine, dibagi atas :
- - High altitude : 1500 - 3500 m
- - Very high altitude : 3500 – 5500 m
- - Extreme altitude : > 5500 m
AKLIMATISASI
Sebagai usaha untuk beradapatasi pada keadaan lingkungan tersebut - terutama akibat kurangnya oksigen - tubuh mengalami aklimatisasi. Proses ini berjalan lambat dan kadang butuh waktu lebih dari satu hari. Perubahan fisiologis terjadi pada sistem pernapasan, peredaran darah, dan sitem tubuh lainnya dengan maksud meningkatkan distribusi oksigen. Aklimatisasi tergantung pada kecepatan pendakian, tingkat stress dan fisiologis individual. Kemampuan individu untuk beraklimatisasi juga berbeda.
Perubahan fisiologis (normal) yang terjadi akibat ketinggian :
1. Sistem respirasi
Saat naik, kecepatan bernafas kita akan bertambah pula. Ini biasa dimulai sejak ketinggian 1500M hal ini dikenal dengan Hypoxic Ventilatory Response (HVR). HVR bervariasi pada tiap orang dan dipengaruhi oleh stimulan (misalnya kafein dan coca), serta depresan (misalnya alkohol dan antihistamin). Kebugaran fisik tidak terlalu berpengaruh terhadap HVR. HVR yang baik akan meningkatkan aklimatisasi, HVR yang kurang baik akan memudahkan terkena penyakit ketinggian. Karena kecepatan nafas bertambah, semakin banyak oksigen (O2) yang dihirup. Tapi kita juga akan semakin banyak mengeluarkan karbondioksida (CO2) sehingga terjadi perubahan kimiawi dalam tubuh. Dalam waktu 24 sampai 48 jam, ginjal berusaha menyelaraskan dengan perubahan kimiawi tersebut dengan mengeluarkan bikarbonat (artinya kita akan semakin banyak mengeluarkan urin selama aklimatisasi).
2. Sistem sirkulasi
Ketinggian akan membuat tubuh dalam keadaan stress. Sebagai respon, adrenalin dilepaskan ke dalam darah. Akibatnya, muncul peningkatan ringan pada tekanan darah dan detak jantung. Semakin lama di ketinggian, detak jantung kembali ke tingkat normal. Volume plasma darah juga menurun akibat peningkatan urin. Penurunan ini bisa mencapai angka 15 % dalam tiga hari pertama aklimatisasi. Jadi sangat penting untuk minum banyak air sehingga tidak terjadi dehidrasi. Pulmonary vessel juga akan menyempit selama berada di ketinggian. Dampaknya terjadi tekanan pada arteri pulmonary dan menjadi satu faktor timbulnya pulmonary edema (cairan bocor ke paru-paru).
3. Pola tidur
Salah satu kontrol pernafasan adalah kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah. Jika kadarnya meningkat, otak menyuruh kita bernafas. Kalau tingkat oksigen menurun, otak juga menyuruh kita bernafas. Saat kita bernafas dengan cepat di ketinggian, semakin banyak karbon dioksida yg dihembuskan -otak merasakan kadar yg rendah- secara spontan kita akan berhenti bernafas. selanjutnya kadar oksigen akan menurun dari tidak adanya nafas itu, otak menyuruh kita kembali bernafas sehingga kita bernafas dan menghembuskan lagi karbon dioksida. Jadilah seperti satu siklus yg tak berujung. Fase tak bernafas tadi bisa mencapai 30 detik atau lebih. Istilahnya periodic breathing dan sering terjadi selama aklimatisasi. Ini tentu bisa mengganggu pola tidur yg normal. Mungkin kita pernah tiba-tiba bangun karena merasa tercekik dan perlu bernafas sekali lagi. Saat aklimatisasi berlanjut, fenomena ini akan berkurang tapi tidak akan menghilang sepenuhnya.
4. Penurunan kondisi tubuh (deteriorasi)
Ketinggian 5800 M merupakan batas habitasi jangka panjang yang normal. Masalah pada ketinggian ini banyak, antara lain; turunnya berat badan, rasa cepat ngantuk/lemas, dan susah tidur. Semakin tinggi, penurunan-penurunan tadi semakin sering terjadi. Di atas 8000M (atau the Death Zone), penurunan terjadi secara cepat, bahkan kematian bisa terjadi secara tiba-tiba. Tak heran kalau pendaki Everest kebanyakan memakai suplai oksigen. Masalah turunnya berat badan adalah persoalan yang serius. Penyebabnya ada dua; turunnya selera makan dan susahnya menyerap nutrisi makanan. Selera makan ini turun sesuai ketinggian, makin tinggi makin turun selera makan kita. Tubuh kita saat itu juga cuma nyerap setengah dari lemak makanan serta tiga perempat karbohidrat dari kebiasaan normalnya.

0 comments:
Post a Comment